Tuesday, July 12, 2011



Mendidik Anak di Negeri Non Muslim
Thursday, 13 May 2010 11:00

Segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya,dan meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung dari kejahatan jiwa-jiwa kamidan dari keburukan amal-amal kami. Waba`du: Islam memerintahkan orangtua untuk mendidik anak dan memikulkan tanggung-jawab itu di pundak mereka. Firman Allah SWT:
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari apineraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan...(QS AT-Tahrim:6 )

Rasulullah saw.telah meletakkan kaidah-kaidah dasar yang intinya adalah bahwa anak akan tumbuh sesuai dengan agama orangtuanya. Merekalah orang yang secara kuat mempengaruhi anak-anaknya . Beliau bersabda:
"Tidak ada seorang anak yang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah. Maka ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi,Nasrani atau Majusi"(Bukhari)

Mendidik anak di negeri non muslim bukanlah perkara mudah,terutama dalam penanaman aqidah agar anak memnpunyai"imunitas" ketika harus berinteraksi dengan teman-temannya. Untuk itulah kita sebagai orangtua berkewajiban mendidik dengan dilandasi pemahaman agama agar pola yang diterapkan sesuai dengan syari`at dan hal ini juga memotivasi kita juga sebagai teladan untuk di contoh.

Di tengah mayoritas non muslim yang berbeda baik dari segi agama dan kebudayaan kadang tanpa disadari, dari awal akan menjadi kebiasaan yang tidak sesuai ajaran Islam,misalnya ketika masuk rumah bukannya memberi salam tapi mengucapkan apa yang di dapat dari sekolah. Hal ini perlu di tanamkan sejak ini agar anak tidak mencontoh yang tidak di ajarkan dirumah.Jadikan rumah sebagai tempat mereka mendapatkan apa yang tidak diajarkan di sekolah terutama yang berhubungan dengan pembentukan pribadi mereka sebagai muslim.

Ada beberapa hal yang perlu ditanamkan ke anak agar mereka memiliki keimanan yang terpatri kuat:

1.Mengenalkan Islam sebagai agama yang diridhoi Allah swt dan bangga dengan identitasnya sebagai muslim.

Dengan demikian ketika mulai sekolah dasar , anak tidak malu dalam melakukan sholat dan shaum ramadhan dan faham kalau itu merupakan kewajibannya sebagai muslim dan di catat amal kebajikannya agar termasuk hamba Allah yang taat.

Pengalaman,ketika berkumpul dengan teman-temanya ada yang merasa malu ketika harus tampil beda, baik cara berpakaian dimana kalau anak perempuan berkerudung dan anak lelaki bercelana panjang walaupun musim panas kostum olahraga yang di pakai berbeda dengan tetap bercelana panjang.

2.Sholat
Sejak dini ajaklah anak untuk sholat berjama`ah walaupun gerakan dan bacaannya belum sempurna, karena di sini penekanannya adalah agar anak terbiasa hingga menjadi kebiasaan yang mendarah daging, yang untuk melakukannya tidak perlu pengarahan lagi dan merasa tidak tenang bila belum melaksanakannya.

Ketika anak berusia 5 atau 6 tahun orang tua harus enyempatkan waktu khusus untuk mengajarkan bacaan-bacaan sholat untuk persiapan ketika mulai sekolah sudah bisa melakukan sholat dengan bacaan dan raka`at yang benar. Dalam hal ini ,diperlukan keshabaran dan ketelatenan orang tua,agar anak tidak bosan dan lelah.

Bisa juga dilatih ketika hendak sholat bersama-sama membaca bacaan-bacaan sholat atau mengajarinya seperti yang dilakukan sekolah TK Islam,dimana orangtua dan anak melakukan gerakan sholat bersama sambil membaca bacaan-bacaan sholat.
"Dan perintahkanlah keluargamu untuk sholat dan bershabarlah dalam menjalaninya."(Thaha 132)

Anak,sebagaimana manusia lainnya, bisa lupa dan lalai. Allah swt telah mengkhususkan untuknya sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya-rentang waktu masa kanak-kanak yang panjang. Dan masa itu bukanlah masa taklif(pemberlakuan kewajiban) melainkan masa untuk mempersiapkannya agar siap menerima taklif. Jika kita fahami hal ini,mudahlah bagi kita untuk percaya kepada prinsip pengulangan lebih dari satu kali hingga membekas dalam jiwa dan siap menerima perintah serta merespon panggilan.

Tentang prinsip pengulangan ini di tegaskan oleh Rasulullah saw.dengan sabdanya:
"Suruhlah anak-anakmu untuk shalat saat usia tujuh tahun.Dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) bila usia mereka mencapai sepuluh tahun."

3.Shaum atau puasa Ramadhan

Merupakan ibadah wajib yang harus disosialisasikan ke anak sejak dini. Dan ketika berumur tujuh tahun anak sudah siap untuk melaksanakannya tanpa tangisan. Ketika anak mampu bertahan dalam kedaan lapar dan haus,ia akan merasakan menang mengalahkan hawa nafsunya dan itu juga akan meningkatkan rasa percaya dirinya.

Selain kita harus memberikan motivasi dengan menceritakan bagaimana anak-anak para sahabat Rasulullah saw.juga melakukannya dengan menyiapkan mainan agar mereka terhibur dan tidak merasakan panjangnya siang,juga menceritakan teman-teman sebayanya yang sudah mulai melaksanakannya dengan berharap agar dikumpulkan bersama-sama di surga Ar-Rayyan kelak.Dengan begitu insyaAllah akan membuat semangat,apalagi kalau saat berbuka pussa kita ajak ke masjid atau tempat berkumpul sesama muslim. Dengan begitu perasaan akan kebersamaan akan memberikan energi dan kenikmatan dalam melaksanakannya walaupun esok harinya melihat teman-teman di sekolah menyantap makan siang .

Pengalaman, dengan adanya cerita dan pemahaman dari kita sebagai orang tua anak akan enjoy ketika melaksanakan shaum walaupun hari sekolah dan bisa mencari kegiatan saat makan siang, entah dengan ke perpustakaan atau menggambar.

4.Membaca Al-Qur`an dan Hadist

Selain ibadah-ibadah wajib,kita harus mengenalkan anak-anak ibadah sunnah yang apabila dilaksanakannya kelak akan menolongnya di hari kiamat kelak. Sejak dini, latihlah anak-anak dengan lafaz huruf-huruf hijaiyyah agar dasar pengenalan ini menunjang untuk meneruskan ke metode Iqra atau qira`ati. Ketika usia enam atau tujuh tahun anak dapat membaca al-qur`an dan menjadi aktifitas rutin bersama orang tua. Waktunya di lihat dan di sesuaikan jam anak, saat tidak mengantuk dan senang hati. Hafalan Al-qur`an juga sudah disosialisasikan dengan ketelatenan orang tua membacakan dan mengulang-ulang surah-surah pendek.Ketika dalam jangka waktu tiga bulan insyaAllah anak akan dapat mengikuti surah-surah pendek ketika imam sholat membacakannya bahkan menghafal tanpa bantuan.

Hadist anak-anak, baik juga dikenalkan agar tidak tertinggal dengan teman-temanya yang bersekolah di Indonesia. Untuk itu perlu mencari informasi kurikulum atau mencari buku pelajaran agama Islam khusus seusia anak kita.Pengalaman, setelah anak dikenalkan dengan hadist kasih sayang atau sholat,anak lebih mudah diingatkan ketika lupa atau bermasalah dengan adiknya.

5.Silaturrahim

Hal ini juga penting diterapkan,dengan jadwal yang telah ditetapkan dan moment yang tepat. Selain mengenalkan anak bahwa silaturrahim dianjurkan bagi agama Islam,juga untuk mengikat tali persaudaraan, mendapatkan teman yang siap menolong bila diperlukan dan tidak merasa hidup sendiri di komunitas yang mayoritas non musllim.Sarana pertemuan acara-acara besar keagamaan bisa juga dijadikan ajang silaturahim mereka dengan teman sebayanya. Hal ini juga memberikan rasa kebahagiaan dan suasana yang baik karena tidak terkungkung di rumah saja. Penekanan lain, perlu mengenalkan anak kita dengan teman muslim agar melihat kebiasaan yang baik,entah dari perilaku atau kemauan dalam melaksanakan sholat wajib misalnya.

6.Bercerita tentang Rasulullah,para nabi, sahabat dan orang-orang shalih.

Dengan bercerita kita bisa memberikan masukkan yang berarti dengan dikaitkan hal-hal yang dilakukan di sekolah yang bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, perayaan krismas yang dirayakan setiap tahun dengan persiapannya yang melibatkan anak agar sukacita menyambutnya.Dalam hal ini perlu kearifan orang tua dalam mensikapinya dengan memberitahukan ke guru dan anak.

Berkaitan dengan perayaan-perayaan umat Islam,guru dan anak perlu diberitahu agar ketika momemnt itu tiba, mudah untuk meminta ijin. Begitupun dengan menceritakan akhlaq yang baik,dengan tidak mencela teman bila mempunyai kekurangan bahkan melakukan dengan mengucilkan teman sampai menangis,istilah di Jepang "ijime".

Hidup di negeri non muslim,harus bisa mengambil dari sisi positip dan mencari jalan untuk menghindari sisi negatif. Dalam hal metode pendidikan anak-anak di sekolah, ada beberapa aspek yang bisa kita contoh untuk pembekalan diri :

a.Aspek disiplin
Disiplin untuk tidak datang terlambat dan mentaati peraturan sekolah yang sudah di sepakati bersama, Sampai dalam hal keseharian, anak tidak akan melanggar bila memang itu benar.Misalnya, menyebrang jalan dan aturan bermain di luar tidak sampai waktu sore menjelang malam.

b.Aspek keberanian
Setiap pelajaran, ada presentasi baik perorangan atau kelompok. Untuk soal tanya-jawab,tidak berlaku untuk anak yang pintar saja,semua di berikan kesempatan menjawab dan di hargai tanpa di salahkan.Setelah beberapa anak sudah berani mengeluarkan pendapatnya,setelah itu guru memberikan penjelasan yang benar dengan di sertai penghargaan kepada yang benar dengan tujuan agar yang lainpun termotivasi dan tidak malu menungkapkan pendapatnya.

c.Aspek kemandirian
Rutinitas membersihkan kelas merupakan melatih kemandirian dalam hal kebersihan. Begitupula menyiapkan makan siang. Dengan dibantu guru setiap anak mendapatkan gilirannya dengan berkelompok untuk mengambil dan menyajikan ke teman-teman.
Begitupun dengan keperluan,mulai dari sepatu khusus masuk ruangan dan peralatan lainnya yang harus diperhatikan sendiri.

d.Aspek keterampilan
Anak dilatih untuk mengekpresikan bakat seni dan olahraganya agar terlatih bahkan mahir. Dengan latihan yang dipantau dengan penentuan batas waktu dan penghargaan,anak menjadi termotivasi. Seperti menggambar bebas setiap di sela waktu istirahat.Begitupun dengan olahraga lari dan lompat tali yang menjadi olahraga unggulan. Bahkan dibuat acara tahunan olahraga dengan yang di hadiri oleh seluruh keluarga.

e.Aspek ilmu dengan praktek lansung
Dimana ketika pelajaran yang berhubungan dengan alam atau masyarakat,anak diajak untuk melihat dan melakukannya lansung dan membuat laporan.Untuk meransang minat baca, setiap anak harus meminjam buku-buku di sekolah sesuai kebutuhan setiap hari.

f.Aspek afektif

Dimana anak diajarkan kasih sayang dengan sesama makhluk,misalnya dengan memelihara bersama hewan peliharaan sekolah.
Setiap kelas, mendapat tugas untuk memberi makan dan membersihkan kandang bahkan ada yang di suruh memlihara khusus hewan tertentu dengan melatih untuk tidak takut dan bertanggung jawab.Misalnya memelihara serangga.

Dengan adanya perpanduan yang seimbang antara yang baik dari rumah dan sekolah,semoga menjadikan anak dan orang tua mendapatkan nilai tambah baik untuk kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Semoga peranan kita sebagai orang tua dimudahkan Allah untuk melaksanakan apa yang terbaik untuk anak-anak kita dengan tak lupa berdo`a kepada Allah swt yang berhak atas segala ketentuanNya di dunia ini.

Maryam Malik
Yokohama, Maret 2006.

Makalah pada seminar milis Bidang Pendidikan Fahima tahun 2006 (*)

Monday, July 11, 2011


Kiat Mengajarkan Tahfidz Qur’an Pada Anak*

Muqaddimah

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT sbg hudan/petunjuk (QS.2:2) bagi setiap muslim. Konsekuensinya, setiap muslim wajib berinteraksi dengannya. Bentuk interaksi denagn Al-Qur’an meliputi : membaca dan memperbaiki bacaannya, mentadabburinya, mengamalkannya, menda’wahkannya serta menghafalkannya. Allah SWT sengaja memudahkan kita untuk melaksanakan lima tugs tsb. Firman Allah :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan/pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS:54:17).

Imam Qurtubi dalam menjelaskna ayat tsb menyatakan sbb. : “artinya Aku (Allah) memudahkan menghafalnya dan membantu bagi yang berusaha menghafalnya. Adakah orang yang berusaha menghafalkannya, sehingga dimudahkan dalam menghafalkannya? (tafsir al-qurtubi surat al-Qomar)

Teknik Mengajarkan Tahfidz Pada Anak

1. Kenali potensi anak :

  • Kenali bakat dan kemampuan anak
  • Kenali kemampuan daya ingatnya
  • Kenali minat anak
  • Kenali anak yg mengalami kesulitan belajar atau interaksi

2. Pastikan situasi kondusif :

  • Tidak dalam keadaan dipaksakan
  • Tidak mengantuk
  • Tidak letih/kelelahan
  • Tidak kekenyangan atau sebaliknya
  • Tidak dalam kedaan capek belajar
  • Tidak sedang bermain, kecuali menghafal sambil bermain atau bermain sambil menghafal
  • Tidak dalam keadaan bad mood atau sakit

3. Teknik pada saat pengajaran :

  • Niatkan dengan ikhlas dan penuh kesabaran
  • Memiliki kemuan kuat dan optimis akan bisa mengajrkan anak
  • Berdoa agar dimudahkan Allah SWT (istighfar, sholawat dan do’a)
  • Lakukan dengan fun (menyenangkan)
  • Memilih waktu yang tepat
  • Memilih tempat yang sesuai
  • Ciptakan situasi dan kondisi tenang
  • Dimulai dari ayat-ayat yang mudah dihafal
  • Mengajarkan dengan bacaan yang benar sesuai dengan kaidah tajwidnya
  • Menggunakan satu jenis mushaf, jangan berganti-ganti, disarankan memakai mushaf cetakan pojok dng rosmul usmani
  • Lebih ideal kalau OT nya juga sama-sama menghafal (ada keteladanan dan motivasi)
  • Selalu diulang-ulang, kontinyu dan konsisten
  • Kalo perlu menjelaskan nilai yang terkandung pada ayat yang dihafal
  • Sesekali dalam situasi nyaman menjelaskan hikmah menghafal al-qur’an

4. Hal yang harus diperhatikan untuk anak :

  • Jangan mencela anak : nakal, bodoh, bandel, syetan dst
  • Jangan membeir presseur/tekanan yang berlebihan dan tidak mendidik
  • Berikan nutrisi yang tepat buat kecerdasan otak anak
  • Jangan berlebihan mengkonsumsi zat-zat kimia pada makanan/jajanan anak yang dalam jangka panjang bisa merusak otak

5. Teknik pengajaran pada usia yang berbeda:

1. Usia : 0 – 2 tahun :

  • bacakan surat al-fatihah tiap pagi, siang, sore, malam
  • tiap waktu diulang sampai 3x
  • setelah hari ke-5 diteruskan dengan surat an-naas dst dng metode yg sama
  • setiap 1 waktu, surat yg sdh dihafal diulang minimal 1x

2. Usia : 2 – 4 tahun :

  • sama dengan metode diatas, jika kemmpuan mengucapkan kurang, ditambah waktu menghafalnya misalnya menjadi 7 hari
  • sering didengarkan murottal

3. Usia diatas 4 tahun :

  • Mulai diatur lebih serius
  • Ajari menghafal sendiri
  • Ajari muroja’ah sendiri
  • Selalu dimotivasi agar selalu semangat
  • Kalau perlu 3-4 x sehari : pagi, siang, sore,malam

6. Menjaga hafalan anak :

  • Jauhkan anak dari akhlak tercela, arahkan dalam situasi akhlak terpuji
  • Mengulang-ulang hafalan : bisa sendiri, dengan kaset, dengan kawannya atau dengan OT nya, terutama ayat-ayat yang susah atau yang mirip-mirip
  • Memelihara motivasi anak
  • Memberikan reward/hadiah
  • Berkunjung ke para huffadz (penghfal al-qur’an)
  • Mendekatkan anak dengan lungkungan al-qur’an
  • Menciptakan kompetisi sehat dengan saudarnya/anak yang lain
  • Mengikutkan anak untuk lomba tahfidz
  • Berdoa agar Allah SWT senantiasa memelihara hafalannya

7. Beberapa metode menghafal Al-Qur’an :

  • Teknik mengulang
  • Teknik menghafal dengan berpasangan
  • Teknik mendengar dengan kaset/CD
  • Teknik merekam
  • Teknik menulis
  • Teknik tematik
  • Dll

Penutup

Semua paparan di atas hanya sebuah upaya agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal dan efektif. Lebih dari itu semua kita tawakkalkan kepada Allah yang Maha Tahu, Maha Mengajarkan kepada setiap hambanya. Namun Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha kita sekecil apapun hasil yang kita capai. Allah akan menghargai kerja keras kita bukan hasil yg kita capai.

*dari berbagai sumber

Wallaahu a’lam

H.Abdul Kholik, S.Pd

(disampaikan pada acara pertemuan OT siswa SDIT Al-Istiqomah Klari, 29 Januari 2011)

RAHASIANYA , ORANG TUA HARUS SHOLEH

Mungkin satu hal yang sering dilupakan oleh kita. Diisyaratkan oleh orang-orang sholih terdahulu (baca : salafush sholeh) bahwa sebenarnya amalan orang tua juga bisa berpengaruh pada kesholehan anaknya. Orang tua yang sholeh akan memberi kemanfaatan kepada anaknya di dunia bahkan tentu saja di akhirat. Sebaliknya, orang tua yang gemar berbuat maksiat akan memberi pengaruh jelek dalam mendidik anak.

Oleh karena itu, hendaklah orang tua yang menginginkan kesholehan pada anaknya untuk giat melakukan amal sholih yang di dalamnya terdapat keikhlasan dan senantiasa mengikuti contoh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kisah Dua Anak Yatim

Alangkah baiknya kita memperhatikan kisah Musa dan Khidz ini dengan seksama. Semoga kita bisa menggali pelajaran berharga di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman ,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al Kahfi : 82)

Suatu saat Nabi Musa dan Khidr –‘alaihimas salam- melewati suatu perkampungan. Lalu mereka meminta kepada penduduk di kampung tersebut makanan dan meminta untuk dijamu layaknya tamu. Namu penduduk kampung tersebut enggan menjamu mereka. Lalu mereka berdua menjumpai dinding yang miring (roboh) di kampung tersebut. Khidr ingin memperbaikinya. Kemudian Musa berkata pada Khidr,

لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” (QS. Al Kahfi: 77).
Namun apa kata Khidr? Khidr berkata,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi : 82)

Lihatlah …! Allah Ta’ala telah menjaga harta dan simpanan anak yatim ini, karena apa? Allah berfirman (yang artinya), “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” Ayahnya memberikan simpanan kepada anaknya ini, tentu saja bukan dari yang haram. Ayahnya telah mengumpulkan harta untuk anaknya dari yang halal, sehingga karena kesholehannya ini Allah juga senantiasa menjaga anak keturunannya. Bukankah begitu?!

Hendaknya Orang Tua Senantiasa Memperhatikan yang Halal dan Haram

Oleh karena itu, hiasilah diri dengan amal sholeh bukan dengan berbuat maksiat. Carilah nafkah dari yang halal bukan dari yang haram. Perbaguslah makanan, minuman, dan pakaianmu hingga engkau menengadahkan tanganmu untuk berdo’a pada Allah dengan tangan yang suci, hati yang bersih, maka niscaya jika engkau melakukan amal sholeh semacam ini, Allah akan senantiasa mengabulkan permintaanmu ketika engkau berdo’a untuk kesholehan anakmu. Tentu dengan demikian Allah akan memperbaiki dan membuat sholeh dan memberkahi mereka. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma’idah : 27) ?!

Cobalah kita renungkan, bagaimana mungkin do’a kita bisa diijabahi sedangkan hasil usaha, makan dan minum yang kita peroleh berasal dari perbuatan menipu orang lain, korupsi, dan perbuatan maksiat lainnya atau mungkin dengan berbuat syirik?! Tidakkah kita merenungkan, bagaimana do’a kita bisa diijabahi sedangkan pakaian kita saja berasal dari yang haram?!

Sebaik-Baik Teladan adalah Salafush Sholeh Terdahulu

Lihatlah saudaraku –para ayah dan ibu- perkataan orang sholeh terdahulu (baca : salafush sholeh) ini. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada kita untuk senantiasa beramal sholeh.

Sebagian mereka berkata, “YA BUNAYYA LA’AZIDUNNA FI SHOLATI MIN AJLIKA [Wahai anakku, sungguh aku menambah shalatku karena untukmu].”

Sebagian ulama mengatakan, “Maksudnya adalah aku memperbanyak shalat dan memperbanyak do’a kepadamu -wahai anakku- dalam setiap shalatku.”

Jika orang tua senantiasa merutinkan mentadaburi kitabullah, membaca surat Al Baqoroh, dan Surat Al Falaq-An Naas (Al Maw’idzatain), atau amalan lainnya, niscaya malaikat akan turun di rumah mereka tersebut karena sebab dihidupkannya bacaan kitab suci Al Qur’an, bahkan setan pun akan kabur dari rumah yang senantiasa dirutinkan amalan semacam ini. Tidak diragukan lagi bahwasanya turunnya malaikat akan menghadirkan ketenangan dan mendatangkan rahmat. Hal ini sudah barang tentu akan memberi pengaruh yang baik pada anak dan mereka niscaya akan mendapat keselamatan. Adapun hal ini sampai dilalaikan oleh orang tua, maka akan berakibat sebaliknya. Setan malah akan senang menghampiri rumah tersebut karena rumah semacam ini tidak dihidupkan dengan dzikir pada Allah. Malah rumah ini dihiasi dengan berbagai gambar makhluk bernyawa, music dan hal-hal yang terlarang lainnya.

Marilah kita selaku orang tua mengintrospeksi diri. Hiasilah hari-hari kita dengan gemar mentadaburi kitabullah. Hiasilah rumah kita dengan lantunan ayat suci Al Qur’an. Hiasilah hari-hari kita dengan puasa sunnah, shalat sunnah, shalat malam dan amalan taat lainnya. Jauhilah berbagai macam maksiat dan perbuatan-perbuatan terlarang yang memasuki rumah kita.

Semoga Allah senantiasa memberkahi pendengaran, penglihatan, istri dan anak-anak kita.




Bulan Sya'ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Shaum di bulan Sya’ban

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Sebagian ulama diantaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban, sebagai puasa sunnah, lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang, bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban

Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakan sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagaimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

1. Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.

2. Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.

3. Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, diantaranya adalah Hasan Al-Bashri –meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.

Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)?

Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka diantara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).

Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu.

Wallahu ta’ala a’lam.

Maraji’: Lathaaiful Ma’arif fi ma Limawasimil ‘Aami minal Wadhaaif, Ibnu Rajab Al-Hambali.

Al-Ilmam bi Syai’in min Ahkamish Shiyam, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi.

(Diterjemahkan dari artikel berjudul Haula Syahri Sya’ban di http://www.islam-qa.com oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)

Saturday, July 9, 2011

Adab Makan Seorang Muslim



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

{ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ }

“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)

Hadits di atas mengandung tiga adab makan:

Pertama, membaca basmallah

Di antara sunnah Nabi adalah mengucapkan bismillah sebelum makan dan minum dan mengakhirinya dengan memuji Allah. Imam Ahmad mengatakan, “Jika dalam satu makanan terkumpul 4 (empat) hal, maka makanan tersebut adalah makanan yang sempurna. Empat hal tersebut adalah menyebut nama Allah saat mulai makan, memuji Allah di akhir makan, banyaknya orang yang turut makan dan berasal dari sumber yang halal.

Menyebut nama Allah sebelum makan berfungsi mencegah setan dari ikut berpartisipasi menikmati makanan tersebut. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Apabila kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak memulainya sehingga Nabi memulai makan. Suatu hari kami makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seorang gadis kecil seakan-akan anak tersebut terdorong untuk meletakkan tangannya dalam makanan yang sudah disediakan. Dengan segera Nabi memegang tangan anak tersebut. Tidak lama sesudah itu datanglah seorang Arab Badui. Dia datang seakan-akan di dorong oleh sesuatu. Nabi lantas memegang tangannya. Sesudah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan turut menikmati makanan yang tidak disebut nama Allah padanya. Syaitan datang bersama anak gadis tersebut dengan maksud supaya bisa turut menikmati makanan yang ada karena gadis tersebut belum menyebut nama Allah sebelum makan. Oleh karena itu aku memegang tangan anak tersebut. Syaitan pun lantas datang bersama anak Badui tersebut supaya bisa turut menikmati makanan. Oleh karena itu, ku pegang tangan Arab Badui itu. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sesungguhnya tangan syaitan itu berada di tanganku bersama tangan anak gadis tersebut.” (HR Muslim no. 2017)

Bacaan bismillah yang sesuai dengan sunnah adalah cukup dengan bismillah tanpa tambahan ar-Rahman dan ar-Rahim. Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir) Dalam silsilah hadits shahihah, 1/611 Syaikh al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini shahih menurut persyaratan Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ibnu Hajar al-Astqalani mengatakan, “Aku tidak mengetahui satu dalil khusus yang mendukung klaim Imam Nawawi bahwa ucapan bismillahirramanirrahim ketika hendak makan itu lebih afdhal.” (Fathul Baari, 9/431)

Apabila kita baru teringat kalau belum mengucapkan bismillah sesudah kita memulai makan, maka hendaknya kita mengucapkan bacaan yang Nabi ajarkan sebagaimana dalam hadits berikut ini, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu kalian hendak makan, maka hendaklah menyebut nama Allah. Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah mengucapkan bismillahi awalahu wa akhirahu.” (HR Abu Dawud no. 3767 dan dishahihkan oleh al-Albani)

Apabila kita selesai makan dan minum lalu kita memuji nama Allah maka ternyata amal yang nampaknya sepele ini menjadi sebab kita mendapatkan ridha Allah. Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah sesudahnya atau meneguk minuman lalu memuji Allah sesudahnya.” (HR Muslim no. 2734)

Bentuk bacaan tahmid sesudah makan sangatlah banyak. Diantaranya adalah dari Abu Umamah, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai makan mengucapkan:

{ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَفَانَا وَأَرْوَانَا غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مَكْفُورٍ }

“segala puji milik Allah Dzat yang mencukupi kita dan menghilangkan dahaga kita, pujian yang tidak terbatas dan tanpa diingkari.”

Terkadang beliau juga mengucapkan:

{ الـحَمْدُ للـهِ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ، غَيْرَ [مَكْفِيٍّ ولا] مُوَدَّعٍ، ولا مُسْتَغْنَىً عَنْهُ رَبَّنَا }

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan penuh berkah meski bukanlah pujian yang mencukupi dan memadai, dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari).

Dari Abdurrahman bin Jubair dia mendapat cerita dari seorang yang melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun. Orang tersebut mengatakan, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan bismillah apabila makanan disuguhkan kepada beliau. Apabila selesai makan Nabi berdoa: Allahumma Ath’amta wa Asqaita wa Aqnaita wa Ahyaita falillahil hamdu ala ma A’thaita yang artinya, “Ya Allah engkaulah yang memberi makan memberi minum, memberi berbagai barang kebutuhan, memberi petunjuk dan menghidupkan. Maka hanya untukmu segala puji atas segala yang kau beri.” (HR Ahmad 4/62, 5/375 al-Albani mengatakan sanad hadits ini shahih. Lihat silsilah shahihah, 1/111)

Hadits ini menunjukkan bahwa ketika kita hendak makan cukup mengucap bismillah saja tanpa arrahman dan arrahim dan demikianlah yang dilakukan oleh Nabi sebagaimana tertera tegas dalam hadits di atas. Di samping bacaan-bacaan tahmid di atas, sebenarnya masih terdapat bacaan-bacaan yang lain. Dan yang paling baik dalam hal ini adalah berganti-ganti, terkadang dengan bentuk bacaan tahmid yang ini dan terkadang dalam bentuk bacaan tahmid yang lain. Dengan demikian kita bisa menghafal semua bacaan doa yang Nabi ajarkan serta mendapatkan keberkahan dari semua bacaan-bacaan tersebut. Di samping itu kita bisa meresapi makna-makna yang terkandung dalam masing-masing bacaan tahmid karena kita sering berganti-ganti bacaan. Jika kita membiasakan melakukan perkara tertentu seperti membaca bacaan zikir tertentu, maka jika ini berlangsung terus menerus kita kesulitan untuk meresapi makna-makna yang kita baca, karena seakan-akan sudah menjadi suatu hal yang refleks dan otomatis

Kedua, makan dan minum menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan kiri

Dari Jabir bin Aabdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019) dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020) Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan tangan kanan untuk makan maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melakukan pekerjaan tangan yang lain.” (Kasyful Musykil, hal 2/594)

Meskipun hadits-hadits tentang hal ini sangatlah terkenal dan bisa kita katakan orang awam pun mengetahuinya, akan tetapi sangat disayangkan masih ada sebagian kaum muslimin yang bersih kukuh untuk tetap makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri. Apabila ada yang mengingatkan, maka dengan ringannya menjawab karena sudah terlanjur jadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. Tidak disangsikan lagi bahwa prinsip seperti ini merupakan tipuan syaitan agar manusia jauh dari mengikuti aturan Allah yang Maha Penyayang. Lebih parah lagi jika makan dan minum dengan tangan kiri ini disebabkan faktor kesombongan.

Dari Salamah bin Akwa radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita bahwa ada seorang yang makan dengan menggunakan tangan kiri di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat hal tersebut Nabi bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu.” “Aku tidak bisa makan dengan tangan kanan,” sahut orang tersebut. Nabi lantas bersabda, “Engkau memang tidak biasa menggunakan tangan kananmu.” Tidak ada yang menghalangi orang tersebut untuk menuruti perintah Nabi kecuali kesombongan. Oleh karena itu orang tersebut tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.” (HR Muslim no. 2021)

Dalam riwayat Ahmad no. 16064 dinyatakan, “Maka tangan kanan orang tersebut tidak lagi bisa sampai ke mulutnya sejak saat itu.” Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa kita diperbolehkan untuk mendoakan kejelekan terhadap orang yang tidak melaksanakan aturan syariat tanpa aturan yang bisa dibenarkan. Hadits di atas juga menunjukkan bahwasanya amar ma’ruf nahi munkar itu dilakukan dalam segala keadaan. Sampai-sampai meskipun sedang makan. Di samping itu hadits di atas juga menunjukkan adanya anjuran mengajari adab makan terhadap orang yang tidak melaksanakannya (Syarah shahih Muslim, 14/161)

Meskipun demikian jika memang terdapat alasan yang bisa dibenarkan yang menyebabkan seseorang tidak bisa menikmati makanan dengan tangan kanannya karena suatu penyakit atau sebab lain, maka diperbolehkan makan dengan menggunakan tangan kiri. Dalilnya firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Ketiga, memakan makanan yang berada di dekat kita

Umar bin Abi Salamah meriwayatkan, “Suatu hari aku makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku mengambil daging yang berada di pinggir nampan, lantas Nabi bersabda, “Makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Muslim, no. 2022)

Hikmah dari larangan mengambil makanan yang berada di hadapan orang lain, adalah perbuatan kurang sopan, bahkan boleh jadi orang lain merasa jijik dengan perbuatan itu.

Anas bin Malik meriwayatkan, “Ada seorang penjahit yang mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikmati makanan yang ia buat. Aku ikut pergi menemani Nabi. Orang tersebut menyuguhkan roti yang terbuat dari gandum kasar dan kuah yang mengandung labu dan dendeng. Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengambil labu yang berada di pinggir nampan.” (HR. Bukhari, no. 5436, dan Muslim no. 2041)

Kalau lihat hadits ini, Nabi pernah tidak hanya memakan makanan yang berada di dekat beliau, tetapi juga di depan orang lain. Sehingga untuk kompromi dua hadits tersebut, Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhiid Jilid I halaman 277, mengatakan, “Jika dalam satu jamuan ada dua jenis atau beberapa macam lauk, atau jenis makanan yang lain, maka diperbolehkan untuk mengambil makanan yang tidak berada di dekat kita. Apabila hal tersebut dimaksudkan untuk memilih makanan yang dikehendaki. Sedangkan maksud Nabi, “Makanlah makanan yang ada di dekatmu” adalah karena makanan pada saat itu hanya satu jenis saja. Demikian penjelasan para ulama”

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Ustadz Aris Munandar
Sumber: Kumpulan Tulisan Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Metode Menghafal Qur’an

Bersama Mudhawi Ma’arif

I. Pendahuluan

Ada 3 prinsip (Three P) yang harus difungsikan oleh ikhwan/akhwat kapan dan dimana saja berada sebagai sarana pendukung keberhasilan dalam menghafal al qur’an. 3P (Three P) tersebut adalah:

1. Persiapan (Isti’dad)

Kewajiban utama penghafal al-qur’an adalah ia harus menghafalkan setiap harinya minimal satu halam dengan tepat dan benar dengan memilih waktu yang tepat untuk menghafal seperti:

a. Sebelum tidur malam lakukan persiapan terlebih dahulu dengan membaca dan menghafal satu halaman secara grambyangan (jangan langsung dihafal secara mendalam)

b. Setelah bangun tidur hafalkan satu halaman tersebut dengan hafalan yang mendalam dengan tenang lagi konsentrasi

c. Ulangi terus hafalan tersebut (satu halaman) sampai benar-benar hafal diluar kepala

2. Pengesahan (Tashih/setor)

Setelah dilakukan persiapan secara matang dengan selalu mengingat-ingat satu halaman tersebu, berikutnya tashihkan (setorkan) hafalan antum kepada ustad/ustadzah. Setiap kesalahan yang telah ditunjukkan oleh ustad, hendaknya penghafal melakukan hal-hal berikut:

a. Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa)

b. Mengulang kesalahan sampai dianggap benar uoleh ustad.

c. Bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan

3. Pengulangan (Muroja’ah/Penjagaan)

Setelah setor jangan meninggalkan tempat (majlis) untuk pulang sebelum hafalan yang telah disetorkan diulang beberapa kali terlebih dahulu (sesuai dengan anjuran ustad/ustadzah) sampai ustad benar-benar mengijinkannya

II. Syarat Utama Untuk Memudahkan Hafalan

1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah

2. Berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadi hamba-hamba pilihanNya yang menjaga al-qur’an

3. Istiqomah sampai ajal musamma

4. Menguasai bacaan al-qur’an dengan benar (tajwid dan makharij al huruf)

5. Adanya seorang pembimbing dari ustad/ustadzah (al-hafidz/al-hafidzah)

6. Minimal sudah pernah khatam al-qur’an 20 kali (dengan membaca setiap ayat 5 kali)

7. Gunakan satu jenis mushaf al-qur’an (al-qur’an pojok)

8. Menggunakan pensil/bolpen/stabilo sebagai pembantu

9. Memahami ayat yang akan dihafal

III. Macam-macam Metode Menghafal

A. Sistem Fardhi

Ikuti langkah ini dengan tartib (urut):

1. Tenang dan tersenyumlah, jangan tegang

2. Bacalah ayat yang akan dihafal hingga terbayang dengan jelas kedalam pikiran dan hati

3. Hafalkan ayat tersebut dengan menghafalkan bentuk tulisan huruf-huruf dan tempat-tempatnya

4. Setelah itu pejamkan kedua mata dan

5. Bacalah dengan suara pelan lagi konsentrasi (posisi mata tetap terpejam dan santai)

6. Kemudian baca ayat tersebut dengan suara keras (posisimata tetap terpejam dan jangan tergesa-gesa)

7. Ulangi sampai 3x atau sampai benar-benar hafal

8. Beri tanda pada kalimat yang dianggap sulit dan bermasalah (garis bawah/distabilo)

9. Jangan pindah kepada hafalan baru sebelum hafalan lama sudah menjadi kuat

Penggabungan ayat-ayat yang sudah dihafal

Setelah anda hafal ayat pertama dan kedua jangan pindah kepada ayat ketiga akan tetapi harus digabungkan terlebih dahulu antara keduanya dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Bacalah ayat pertama dan kedua sekaligus dengan suara pelan lagi konsentrasi

2. Kemudian bacalah keduanya dengan suara keras lagi konsentrasi dan tenang

3. Ulani kedua ayat tersebut minimal 3x sehingga hafalan benar-benar kuat. Begitulah seterusnya, pada tiap-iap dua tambahan ayat baru harus digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga terjadi kesinambungan hafalan

4. Mengulang dari ayat belakang ke depan. Dan dari depan ke belakang

5. Semuanya dibaca dengan suara hati terlebih dahulu kemudian dengan suara keras (mata dalam keadaan tertutup)

6. Begitu seterusnya. Setiap mendapatkan hafalan baru, harus digabungkan dengan ayat/halaman/juz sebelumya.

B. Sistem Jama’i

Sistem ini menggunakan metode baca bersama, yaitu dua/tiga orang (partnernya) membaca hafalan bersama-sama secara jahri (keras) dengan:

a. Bersama-sama baca keras

b. Bergantian membaca ayat-an dengan jahri. Keika partnernya membaca jahr dia harus membaca khafi (pelan) begitulah seterusnya dengan gantian.

Sistem ini dalam satu majlis diikuti oleh maksimal 12 peserta, dan minimal 2 peserta. Settingannya sebagai berikut:

a. Persiapan:

1. Peserta mengambil tempat duduk mengitari ustad/ustadzah

2. Ustad/ustadzah menetapkan partner bagi masing-masing peserta

3. Masing-masing pasangan menghafalkan bersama partnernya sayat baru dan lama sesuai dengan instruksi ustad/ustadzah

4. Setiap pasangan maju bergiliran menghadap ustad/ustadzah untuk setor halaman baru dan muroja’ah hafalan lama

b. Setoran ke ustad/ ustadzah:

1. Muroja’ah: 5 halaman dibaca dengan sistem syst-an (sistem gantian). Muroja’ah dimulai dari halaman belakang (halaman baru) kearah halaman lama

2. Setor hafalan baru:

a. Membaca seluruh ayat-ayat yang baru dihafal secara bersama-sama

b. Bergiliran baca (ayatan) dengan dua putaran. Putaran pertama dimulai dari yang duduk disebelah kanan dan putaran kedua dimulai dari sebelah kiri.

c. Membaca bersama-sama lagi, hafalan baru yang telah dibaca secara bergantian tadi.

3. Muroja’ah tes juz 1, dengan sistem acakan (2-3x soal). Dibaca bergiliran oleh masing-masing pasangan.

Ketika peserta sendirian tidak punya partner, atau partnernya sedang berhalangan hadir, maka ustad wajibmenggabungkannya dengan kelompok lain yang kebetulan juz, halaman dan urutannya sama, jika hafalannya tidak sama dengan kelompok lain maka ustad hendaknya menunjuk salah seorang peserta yang berkemampuan untuk suka rela menemani.

c. Muroja’ah ditempat:

1. Kembali ketempat semula.

2. Mengulang bersama-sama seluruh bacaan yang disetorkan baik muroja’ah maupun hafalan baru, dengan sistem yang sama dengan setoran

3. Menambah hafalan baru bersama-sama untuk disetorkan pada pertemuan berikutnya

4. Jangan tinggalkan majlis sebelum mendapat izin ustad/ustadzah.

IV. Keistimewaan sistem jama’i

1. Cepat menguasai bacaan al-qur’an dengan benar

2. Menghilangkan perasaan grogi dan tidak PD ketika baca al-qur’an didepan orang lain

3. Melatih diri agar tidak gampang tergesa-gesa dalam membaca

4. Mengurangi beban berat menghafal al-qur’an

5. Melatih untuk menjadi guru dan murid yang baik

6. Menguatkan hafalan lama dan baru

7. Semangat muroja’ah dan menambah hafalan baru

8. Meringankan beban ustad

9. Kesibukannya selalu termotivasi dengan al-qur’an

10. Mampu berda’wah dengan hikmah wa al-mau’idhah al-hasanah

11. Siap untuk dites dengan sistem acakan

12. Siap menjadi hamba-hamba Allah yang berlomba menuju kebaikan

V. Jaminan

1. Hafalan al-qur’an lanyah dan lancar dalam masa tempo yang sesingkat-singkatnya

2. Sukses dan bahagia di dunia dan akhirat

3. Pilihan Allah dan memperoleh surga ‘adn diakhirat nanti (surah fatir: 23-24)

VI. Metode Muroja’ah (Pengulangan dan penjagaan fardhi atau jama’i)

Ayat-ayat al-qur’an hanya akan tetap bersemayam didalam hati utu al-‘ilm jika ayat-ayat yang dihafal selalu diingat, diulang dan dimuroja’ah. Berikut ini cara muroja’ah:

1. Setelah hafal setengah juz/satu juz, harus mampu membaca sendiri didepan ustad/ustadzah dan penampilan.

2. Setiap hari membaca dengan suara pelan 2 juz. Membaca dengan suara keras (tartil) minimal 2 juz setiap hari.

3. Simakkan minimal setengah juz setiap hari kepada teman/murid/jama’ah/istri/suami dst

4. Ketika lupa dalam muroja’ah maka lakukan berikut ini:

· Jangan langsung melihat mushaf, tapi usahakan mengingat-ingat terlebih dahulu

· Ketika tidak lagi mampu mengingat-ingat, maka silahkan melihat mushaf dan

· Catat penyebab kesalahan. Jika kesalahan terletak karena lupa maka berilah tanda garis bawah. Jika kesalahan terletak karena faktor ayat mutasyabihat (serupa dengan ayat lain) maka tulislah nama surat/no./juz ayat yang serupa itu di halaman pinggir (hasyiyah)

Surah Inshiqaq By Shiekh Mishary Rashid Al-Afasy